Logo image
Local Values and Religious Moderation in the Madurese Translation of the Qur'an
Journal article   Open access

Local Values and Religious Moderation in the Madurese Translation of the Qur'an

Wasisto Raharjo Jati, Kirwan and Misbahul Wani
Jurnal Lektur Keagamaan, Vol.23(2), pp.374-398
2025
pdf
Published468.93 kBDownloadView
CC BY-NC-SA V4.0 Open Access

Abstract

This study examines the emergence and development of Qur’an translation into Madurese, focusing on the work of lecturers at IAIN Madura under the directive of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. Employing Nashruddin Baidan’s translation theory, particularly his framework of interpretive periodization in Arabic, this research adapts this approach to the context of Qur’anic translation into a regional language. Using qualitative descriptive analysis, the study traces the historical trajectory of Madurese Qur’an translation, beginning with the initiatives of Jema’ah Pengajian Surabaya (JPS), followed by the Institute for Translation and Study of the Qur’an (LP2Q), and culminating in the contributions of IAIN Madura. Findings suggest that the IAIN Madura project represents a developmental phase in the ongoing process of Qur’an translation into Madurese. The translation adopts a tafsīriyyah model characterized by dynamic adaptation of target-language grammar. A distinctive feature is the integration of the Madurese language hierarchy (bhâsa èngghi bhunten, bhâsa tèngghi/alos, bhâsa èngghi enten, and bhâsa ènjhâ’ iyâ), reflecting local cultural values. The Pamekasan–Sumenep dialect serves as the linguistic basis. The translation is guided by three principles: grounding Qur’anic values, advancing religious modera­tion and preserving regional linguistic heritage. Key references include Tafsīr Jalālain, Tafsīr Ibn Kathīr, and official translations published by the Ministry of Religious Affairs. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan Al-Qur’an dan Terjemahnya Bahasa Madura karya dosen IAIN Madura, yang muncul berdasarkan instruksi Kementerian Agama Republik Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori penerjemahan Nashruddin Baidan tentang periodesasi tafsir di Arab, yang diadaptasi ke dalam konteks penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Madura. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan menelusuri sejarah penerjemahan Al-Qur’an berbahasa Madura, mulai dari karya Jema’ah Pengajian Surabaya (JPS), Lembaga Penerjemahan dan Pengkajian Al-Qur’an (LP2Q), hingga karya IAIN Madura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Terjemahnya Bahasa Madura karya IAIN Madura berada pada fase perkembangan penerjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Madura. Model penerjemahan yang digunakan adalah model tafsīriyyah dengan prinsip penerjemahan dinamis, yaitu menyesuaikan gramatikal bahasa target sedekat mungkin. Salah satu keunikan karya ini adalah penerapan hierarki bahasa Madura—bhâsa èngghi bhunten, bhâsa tèngghi/alos, bhâsa èngghi enten, dan bhâsa ènjhâ’ iyâ—yang mencerminkan nilai-nilai lokal dalam penerjemahan. Dialek yang digunakan adalah dialek Pamekasan-Sumenep. Prinsip utama penerjemahan ini adalah membumikan nilai-nilai Al-Qur’an, mendukung gerakan moderasi beragama, dan melestarikan bahasa daerah. Sumber rujukan utamanya adalah Tafsīr Jalālain, Tafsīr Ibnu Katsīr, dan terjemah Al-Qur’an dari Kementerian Agama.

Details

Metrics

1 File views/ downloads
8 Record Views
Logo image